Social Bookmark | | Posted by ariefew
Bima Suci
Syahdan sang Bima atau Bratasena alias Werkudara alias Bayusutha alias Birawa alias Wijasena (kok kayak teroris sich banyak sekali nama aliasnya) adalah seorang kesatria yang berbudi mulia, jujur , lugu, tetapi sekaligus lugas dan pemberani.Loyalitas dan totalitasnya dalam berjuang menegakkan kebenaran benar-benar luar biasa, nyaris tanpa kompromi dalam membungkam praktek-praktek penyimpangan dan kesewenang-wenangan.Tetapi terkadang pula sifat kejujuran, keluguan dan kepolosannya dimanfaatkan oleh orang-orang dekatnya untuk memperalatnya.Termasuk guru yang paling dihormatinya yaitu sang Durna yang merupakan agen mata-mata dari Kurawa (KIA : Kurawa Intelligence Agency) pernah pula berusaha menjebak dan memperalatnya.
Suatu ketika sang Durna memerintahkan kepada Bima untuk mencari “air kehidupan” yang dianggap terdapat dibawah Kayu Gung Susuhing Angin (Pohon yang merupakan tempat bersarangnya angin) dibelantara pegunungan Reksa Muka (simbol dari lima indera manusia) sebagai prasyarat untuk mencapai kesejatian hidup. Karena keluguan dan kepolosannya Bima bersedia untuk menjalankan perintah tersebut. Padahal maksud sang Durna yang sesungguhnya adalah dia ingin mencelakakan Bima, karena sebenarnya tempat tersebut (Gunung Reksa Muka) adalah tempat yang sangat berbahaya dan bisa membuat Bima celaka atau bahkan binasa.
Dengan lugunya Bima berkata pada sang Durna : “Sendiko Dawuh Hyang Resi, Bima siap menjalankan perintah, kapanpun dan kemanapun hyang Resi titahkan”.Dan selanjutnya Bimapun berangkat menuju tempat yang ditunjukan oleh Gurunya yaitu sang Durna.
Sesampainya dibelantara pegunungan Reksa Muka, ternyata Bima tidak menemukan benda tersebut. Tetapi sebaliknya bahkan ia bertemu dengan raksasa kembar yang hampir saja membunuhnya. Kedua raksasa tersebut kemudian berubah wujud menjadi dewa-dewa yang memberi tahu Bima bahwa air kehidupan tidak terdapat di tempat itu.
Bima kembali untuk menemui Durna untuk meminta tambahan keterangan. Durna mengatakan bahwa air kehidupan itu terdapat di dasar lautan. Bima kemudian mohon pamit pada ibu dan saudara- saudaranya untuk mengembara. Meskipun mereka menahannya, Bima tetap berangkat. Ketika memasuki lautan, dia diserang oleh seekor ular besar yang hampir membunuhnya, tetapi dengan kekuatan kuku Panchanakanya, dia dapat membunuh ular tersebut. Makin dalam memasuki lautan, Bima menjadi tidak sadarkan diri. Ketika ia membukakan matanya, ia melihat mahluk seperti dirinya, tetapi dalam ukuran kecil yakni DEWA RUCI.
Dewa Ruci meminta Bima untuk masuk kedalam badannya, melalui telinga kirinya. Walaupun dewa ini sangat kecil, tetapi Bima dapat masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci dan menemukan dirinya berada pada suatu dunia yang sangat mengagumkan, damai, dan indah, dimana ia merasa sangat nyaman dan karena itu Bima ingin tetap tinggal disana. Dewa Ruci kemudian menjelaskan makna dari apa yang dilihatnya dan makna dari kehidupan. Menjawab keinginan Bima untuk tinggal disana, Dewa Ruci mengatakan ia boleh tinggal disana setelah kematiannya. Tetapi untuk saat ini, ia harus kembali ke bumi bersama dengan saudara-saudaranya untuk melaksakan kewajiban sebagai ksatria. Bima mengikuti Dewa Ruci dan kembali ke dunia nyata untuk melanjutkan perlawanannya memerangi kejahatan, membela saudara-saudaranya melawan Kurawa.
..Demikianlah kisah tentang loyalitas seorang murid (Bima) kepada Gurunya (Durna), meskipun sebenarnya sang Guru berniat untuk menjebak dan membunuhnya.Tetapi berkat tekat, ketekunan, semangat, plus kejujurannya akhirnya justeru Bima bisa selamat dan bahkan bisa mendapatkan Hakikat Kesejatian Hidup yang sesungguhnya.
Saudaraku, sungguhnya banyak sekali hakikat yang terkandung dalam kisah tersebut diatas, tetapi disini saya hanya ingin mengupas tentang falsafah “Sendiko Dawuh” atau dalam bahasa Al-Qur’annya Sami’na Wa Atha’na dan dalam bahasa Indonesianya “Siap Laksanakan Perintah”.
Dalam kaidah spiritualitas falsafah Sami’na Wa Atha’na atau Sendiko Dawuh atau Siap Laksanakan Perintah adalah hakikat tertinggi dari sebuah pengabdian.Ketika sang Khalik memberikan sebuah perintah untuk dikerjakan maka dengan tanpa rasa enggan seorang Abdi / Hamba akan dengan senang hati (ikhlas) menjalankan perintah tersebut.
Seorang abdi atau hamba yang taat, tidak pernah enggan untuk menjalankan perintah-perintahNya sekaligus juga tidak pernah ragu untuk meninggalkan larangan-laranganNya.Ada rasa cinta dalam sebuah pengabdian yang tulus, ada getar-getar kerinduan untuk selalu berada dalam keasyikan berserah diri padaNya.
Dan bahkan tatkala menyebut AsmaNya seolah gemetarlah dinding-dinding kalbu, serasa lemah lunglailah seluruh tubuh, karena rasa rindu demikian menggelora, sehingga seolah tenggelam dalam samudera cinta yang indah tanpa batas.Sebagaimana dilukiskan dalam Al-Qur’an ”Idzaa Dzukirallaahu Wajilat Quluubuhum” (Manakala mengingat akan Allah maka bergetarlah kalbunya).
Saudaraku, inilah makna ketika Bima tenggelam dalam lautan dan justeru dia merasakan keasyikan yang luar biasa, dia ingin terus tenggelam lebih dalam dan lebih dalam lagi guna mereguk dahsyatnya ke-hampa-an dan ke-tiada-an diri berpadu dengan keber-Ada-an Yang Maha Ada.
“Adaku karena KeMaha-Ada-an-MU”.
Tetapi sebelum menuju kedalaman lautan yang tanpa batas, terlebih dulu kita harus bertarung dengan “ULAR” yang merupakan symbol daripada hasrat-hasrat duniawiyah seperti : ambisius, keserakahan, kepongahan, arogansi, rakus dan suka menindas.
Saudaraku, hasrat-hasrat yang terlalu berlebihan kepada dunia, akan menyeret kita menjadi jauh dari ruh Illahiyah.Mata hati kita menjadi terbutakan oleh gemerlapnya materi, kaki dan tangan kita menjadi terbelenggu oleh ambisi-ambisi serta kerakusan pada kemewahan duniawi.
Kita tidak harus melupakan atau mengabaikan dunia, karena Allah justeru memerintahkan kita untuk selalu berkarya bagi kehidupan ini (Fastabikhul Khoirot).Tetapi bagaimana kita bisa menggunakan dunia hanya sebagai “kendaraan” dan bukan sebagai “tujuan akhir” dari perjalanan kita.
Saudaraku, demikianlah sedikit bahan untuk perenungan di akhir tahun 1429 Hijriyah ini, semoga ditahun yang baru nanti kita semua mempunyai semangat baru untuk lebih Sami’na Waatha’na kepada Allah SWT.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1430..
Personal Website, Internet Service, Iklan Baris Gratis Group : Catatanku | Pagerank Checker Tools | IP Visitor View | iklanbaris-kita | iklan ariefew |


